Salam

Monday, November 23, 2009

Menanti di barzakh

Ku merintih, aku menangis,
Ku meratap, aku mengharap,
Ku meminta, dihidupkan semula,
Agar dapat kembali, ke dunia nyata.



Perjalanan rohku, melengkapi sebuah kembara,
Singgah di rahim bonda, sebelum menjejak ke dunia,
Menanti di barzakh, sebelum berangkat ke Mahsyar,
Diperhitung amalan, penentu syurga atau sebaliknya.



Tanah yang basah berwarna merah, semerah mawar dan juga rindu,
Tujuh langkah pun baru berlalu, seusai talkin bernada syahdu,
Tenang dan damai di pusaraku, nisan batu menjadi tugu,
Namun tak siapa pun tahu resah, penantianku.



Terbangkitnya aku, dari sebuah kematian,
Seakan ku dengari, tangis mereka yang ku tinggalkan,
Kehidupan di sini, bukan suatu khayalan,
Tetapi, ia sebenar kejadian.



Kembali roh kembali, kembalilah ke dalam diri,
Sendirian sendiri, sendiri bertemankan sepi.
Hanya kain putih, yang membaluti tubuhku,
Terbujur dan kaku, jasad di dalam keranda kayu.



Ajal yang datang di muka pintu, tiada siapa yang memberitahu,
Tiada siapa pun dapat hindari, tiada siapa yang terkecuali,
Lemah jemari nafas terhenti, tidak tergambar sakitnya mati,
Cukup sekali, tak sanggup untuk ke mengulangi.



Jantung berdegup kencang, menantikan malaikat datang,
Menggigil ketakutan, gelap pekat di pandangan,
Selama ini diceritakan, kini aku merasakan,
Di alam barzakh, jasad dikebumikan.



Ku merintih, aku menangis,
Ku meratap, aku mengharap,
Ku meminta, dihidupkan semula,
Agar dapat kembali, ke dunia nyata.



sumber: http://www.youtube.com/watch?v=k5C30oc5HP4

No comments:

Post a Comment